close

Showing posts with label BAHASAN : Aqidah. Show all posts
Showing posts with label BAHASAN : Aqidah. Show all posts

Memandang Wajah Allâh Azza Wa Jalla Anugerah Terbesar Di Surga

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

Salah satu prinsip dasar Ahlus sunnah wal jamâ’ah yang tercantum dalam kitab-kitab aqidah para Ulama salaf adalah kewajiban mengimani bahwa kaum Mukminin akan melihat wajah Allâh Azza wa Jalla yang maha mulia di akhirat nanti. Ini adalah balasan terhadap keimanan dan keyakinan mereka yang benar kepada Allâh Azza wa Jalla semasa hidup di dunia.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah,, salah seorang imam Ahlus sunnah wal jamâ’ah di zamannya, menegaskan prinsip dasar Ahlus sunnah yang agung ini dalam ucapan beliau rahimahullah, “(Termasuk prinsip-prinsip dasar Ahlus sunnah adalah kewajiban) mengimani (bahwa kaum Mukminin) akan melihat (wajah Allâh Azza wa Jalla yang maha mulia) pada hari kiamat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih”[1]

Imam Ismail bin Yahya al-Muzani rahimahullah berkata [2] , “Pada hari kimat, para penghuni surga akan melihat (wajah) Rabb mereka (Allâh Azza wa Jalla), mereka tidak merasa ragu dan bimbang dalam melihat Allâh Azza wa Jalla, sehingga wajah-wajah mereka akan ceria dengan kemuliaan dari-Nya dan dengan karunia-Nya mata-mata mereka akan melihat kepada-Nya, dalam kenikmatan (hidup) yang kekal abadi…”[3] .

Demikian pula imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah [4] menegaskan prinsip yang agung ini dengan lebih terperinci dalam ucapannya, “Memandang wajah Allâh Azza wa Jalla bagi penghuni surga adalah kebenaran (yang wajib diimani), (dengan pandangan) yang tidak menyeluruh (artinya, tidak melihat secara keseluruhan) dan tanpa (menanyakan) bagaimana (keadaan yang sebenarnya), sebagaimana yang ditegaskan dalam kitabullah (al-Qur’an) :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ﴿٢٢﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat [al-Qiyâmah/75:22-23]

Penafsiran ayat ini haruslah sebagaimana yang Allâh Azza wa Jalla kehendaki (bukan berdasarkan akal dan hawa nafsu manusia), dan semua hadits shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan masalah ini adalah (benar) seperti yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, dan maknanya seperti yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam inginkan. Kita tidak boleh membicarakan masalah ini dengan menta’wil (menyelewengkan arti yang sebenarnya) dengan akal kita (semata-mata), serta tidak mereka-reka dengan hawa nafsu kita, karena tidak akan selamat (keyakinan seseorang) dalam beragama kecuali jika dia tunduk dan patuh kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengembalikan ilmu dalam hal-hal yang kurang jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya (para ulama Ahlus sunnah)”[5] .

DASAR PENETAPAN AQIDAH INI
1. Firman Allâh Azza wa Jalla:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ﴿٢٢﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat [al-Qiyâmah/75:22-23]

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allâh Azza wa Jalladengan mata mereka di akhirat nanti. Karena dalam ayat ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala menggandengakan kata “melihat” dengan kata depan “ilâ” yang berarti bahwa penglihatan tersebut berasal dari wajah-wajah mereka. Artinya mereka melihat wajah Allâh Azza wa Jalladengan indera penglihatan mereka.[6]

Bahkan firman Allâh Azza wa Jalla ini menunjukkan bahwa wajah-wajah mereka yang indah dan berseri-seri karena kenikmatan di surga yang mereka rasakan, menjadi semakin indah dengan mereka melihat wajah Allâh Azza wa Jalla. Dan waktu mereka melihat wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah sesuai dengan tingkatan surga yang mereka tempati, ada yang melihat-Nya setiap hari di waktu pagi dan petang, dan ada yang melihat-Nya hanya satu kali dalam setiap pekan [7] .

2. Firman Allâh Azza wa Jalla:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allâh Azza wa Jalla). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya [Yûnus/10:26]

Kata “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih, yaitu dengan kenikmatan melihat wajah Allâh Azza wa Jalla, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling memahami makna firman Allâh Azza wa Jalla[8] . Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Jika penghuni surga telah masuk surga, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, (yang artinya) “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga) ?" Maka mereka menjawab, "Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami ? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka ?" Maka (pada waktu itu) Allâh membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allâh Azza wa Jalla”. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas.[9]

Dalam hadits ini dengan gamblang, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa kenikmatan melihat wajah Allâh Azza wa Jallaadalah kenikmatan paling mulia dan agung serta melebihi kenikmatan lainnya di surga.[10]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”(Kenikmatan) yang paling agung dan tinggi (yang melebihi semua) kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allâh yang maha mulia. Karena inilah “tambahan” yang paling agung (melebihi) semua (kenikmatan) yang Allâh berikan kepada para penghuni surga. Mereka berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allâh”[11] .

Lebih lanjut imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitab beliau Ighâtsatul Lahafân[12] menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (yaitu melihat wajah Allâh Azza wa Jalla) merupakan balasan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau rahimahullah menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh doa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih, “Aku meminta kepada-Mu (ya Allâh) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)…”[13]

3. Firman Allâh Azza wa Jalla:

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

Mereka di dalam surga memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami (ada) tambahannya (yaitu melihat wajah Allâh Azza wa Jalla). [Qâf/50:35]

4. Firman Allâh Azza wa Jalla:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka [al-Muthaffifin/83:15]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini, beliau rahimahullah berkata, “Ketika Allâh Azza wa Jalla menghalangi orang-orang kafir (dari melihat-Nya) karena Dia murka (kepada mereka), maka ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha (kepada mereka).”[14]

Demikian pula dalil-dalil dari hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan masalah ini sangat banyak bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalur sehingga tidak bisa ditolak).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “(Keyakinan bahwa) orang-orang yang beriman akan melihat (wajah) Allâh Subhanahu wa Ta’ala di akhirat nanti telah ditetapkan dalam hadits-hadits yang shahih, dari (banyak) jalur periwayatan yang (mencapai derajat) mutawatir, menurut para imam ahli hadits, sehingga mustahil untuk ditolak dan diingkari”[15] .

Di antara hadits-hadits tersebut adalah dua hadits yang sudah kami sebutkan di atas. Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah z bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (Allâh Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat nanti) sebagaimana kalian melihat bulan purnama (dengan jelas), dan kalian tidak akan berdesak-desakan dalam waktu melihat-Nya…”[16]

KERANCUAN DAN JAWABANNYA
Demikian jelas dan gamblang keyakinan dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah ini, tapi bersamaan dengan itu beberapa kelompok sesat yang pemahamannya menyimpang, seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah mengingkari keyakinan yang agung ini, dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka sandarkan kepada dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang mereka selewengkan artinya sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Namun, kalau kita renungkan dengan seksama, kita akan dapati bahwa semua dalil (argumentasi) dari al-Qur’an dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka gunakan untuk membela kebatilan dan kesesatan mereka, pada hakikatnya justru merupakan dalil untuk menyanggah kebatilan mereka dan bukan untuk mendukungnya [17] .

Di antara sybhat-syubhat mereka tersebut adalah:
1. Mereka berdalih dengan firman Allâh Azza wa Jalla:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa, "Ya Rabbku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu". Allâh Azza wa Jallaberfirman, "Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman" [al-A’râf/7:143]

Mereka mengatakan bahwa dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menolak permintaan nabi Musa Alaihissallam untuk melihat-Nya dengan menggunakan kata “lan” yang berarti penafian selama-lamanya, ini menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jallatidak akan mungkin bisa dilihat selama-lamanya [18] .

Jawaban Terhadap Syubhat Ini :
a. Ucapan mereka bahwa kata “lan” berarti penafian selama-lamanya, adalah pengakuan tanpa dalil dan bukti, karena ini bertentangan dengan penjelasan para Ulama ahli bahasa arab.

Ibnu Malik, salah seorang Ulama ahli tata bahasa Arab, berkata dalam syairnya :

Barangsiapa yang beranggapan bahwa (kata) “lan” berarti penafian selama-lamanya
Maka tolaklah pendapat ini dan ambillah pendapat selainnya [19]

Maka makna yang benar dari ayat ini adalah bahwa Allâh Azza wa Jalla menolak permintaan nabi Musa Alaihissallam tersebut sewaktu di dunia, karena memang tidak ada seorangpun yang bisa melihat-Nya di dunia. Adapun di akhirat nanti maka Allâh Azza wa Jalla akan memudahkan hal itu bagi orang-orang yang beriman [20] . Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ

Ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kamu yang (bisa) melihat Rabb-nya (Allâh) Azza wa Jalla sampai dia mati (di akhirat nanti)” [21]

Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh Abu Dzar Radhiyallahu anhu :

هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ

Apakah engkau telah melihat Rabb-mu (Allâh Azza wa Jalla) ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Dia terhalangi dengan hijab) cahaya, maka bagaimana aku (bisa) melihat-Nya ?”[22] .

Oleh karena itulah, Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata, “Barangsiapa yang menyangka bahwa nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Rabb-nya (Allâh Azza wa Jalla) maka sungguh dia telah melakukan kedustaan yang besar atas (nama) Allâh”[23]

b. Permintaan nabi Musa Alaihissallam dalam ayat ini untuk melihat Allâh Azza wa Jalla justru menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jalla mungkin untuk dilihat. Karena tidak mungkin seorang hamba yang mulia dan shaleh seperti nabi Musa Alaihissallam meminta sesuatu yang mustahil terjadi dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allâh Azza wa Jalla. Karena permintaan sesuatu yang mustahil dan melampaui batas, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan hak Allâh Azza wa Jalla hanya dilakukan oleh orang yang bodoh dan tidak mengenal Rabb-nya. Sementara nabi Musa Alaihissallam terlalu mulia dan agung untuk disifati seperti itu, bahkan beliau Alaihisallam adalah termasuk nabi Allâh Azza wa Jalla yang mulia dan hamba-Nya yang paling mengenal-Nya[24] .

Maka jelaslah bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.

2. Mereka berdalih dengan firman Allâh Azza wa Jalla:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui [al-An’âm/6:103]

Jawaban Atas Syubhat Ini:
a. Sebagian dari Ulama salaf ada yang menafsirkan ayat ini dengan, “Dia tidak dapat dicapai (diliputi) oleh penglihatan mata di dunia ini, sedangkan di akhirat nanti pandangan mata (orang-orang yang beriman) bisa melihatnya."[25]

b. Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla hanya menafikan al-idrâk yang berarti al-ihâthah (meliputi/melihat secara keseluruhan), sedangkan melihat tidak sama dengan meliputi[26] , bukankan manusia bisa melihat matahari di siang hari tapi dia tidak bisa mengetahuinya secara keseluruhan?[27]

c. al-Idrâk (meliputi/melihat secara keseluruhan) artinya lebih khusus (spesifik) dibandingkan dengan kata ar-ru’yah (melihat), maka dengan dinafikannya al-idrâk menunjukkan adanya ar-ru’yah (melihat Allâh Azza wa Jalla), karena penafian sesuatu yang lebih khusus menunjukkan keberadaan sesuatu yang lebih umum [28] .

Sekali lagi ini membuktikan bahwa ayat yang mereka jadikan sandaran ini, pada hakikatnya jutru merupakan dalil untuk menyanggah kesesatan mereka dan bukan mendukungnya.

PENUTUP
Demikianlah penjelasan ringkas tentang salah satu keyakinan dan prinsip dasar Ahlus sunnah wal jama’ah yang agung, melihat wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Dengan memahami dan mengimani masalah ini dengan benar, maka peluang kita untuk mendapatkan anugrah dan kenikmatan tersebut akan semakin besar, dengan rahmat dan karunia-Nya.

Adapun orang-orang yang tidak memahaminya dengan benar, apalagi mengingkarinya, maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan kemuliaan dan anugrah tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya, na’ûdzu billâhi min dzâlik.

Dalam hal ini salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan, maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut.”[29]

Akhirnya kami berdoa kepada Allâh Azza wa Jalladengan doa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas:

Aku meminta kepada-Mu (ya Allâh) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti)

dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Kitab Ushûlus Sunnah (hlm. 23, cet. Dârul Manâr, Arab Saudi).
[2]. Beliau adalah imam besar, ahli fikih dan murid senior imam asy-Syâfi’i (wafat 264 H). Biografi beliau dalam kitab Siyaru a’lâmin Nubalâ (12/493).
[3]. Kitab Syarhus Sunnah, al-Muzani (hlm. 82, cet. Maktabatul gurabaa’ al-atsariyyah, Madinah).
[4]. Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Salâmah, imam besar dan penghafal hadits Rasûlullâh n (wafat 321 H). Biografi beliau dalam kitab Siyaru A’lâmin Nubalâ’” (27/15).
[5]. Kitab Syarhul Aqîdatith Thahâwiyyah (hlm. 188-189, cet. Ad-Daarul Islaami, Yordania).
[6]. Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/448).
[7]. Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kitab Taisîrul Karîmir Rahmân (hlm. 899).
[8]. Lihat kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/452).
[9]. HSR Muslim dalam Shahîh Muslim (no. 181).
[10]. Lihat kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/453).
[11]. Kitab Tafsir Ibnu Katsir (4/262).
[12]. Mawâridul Amân, cet. Daar Ibnil Jauzi, Ad Dammaam, 1415 H, hlm. 70-71 dan 79
[13]. HR an Nasa-i dalam as-Sunan (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/264), Ibnu Hibbân dalam Shahîhnya (no. 1971) dan al-Hâkim dalam al-Mustadrak (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibbân, al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani dalam Zhilâlul Jannah fii Takhrîjis Sunnah (no. 424).
[14]. Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam “Haadil arwaah” (hal. 201) dan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (8/351).
[15]. Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (8/279).
[16]. HSR al-Bukhari (no. 529) dan Muslim (no. 633).
[17]. Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/457).
[18]. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir (3/469) dan Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/455).
[19]. Dinukil oleh syaikh al-‘Utsaimin kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/456).
[20]. Lihat kitab Taisîrul Karîmir Rahmân (hlm. 302) dan Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/456).
[21]. HSR Muslim (no. 169).
[22]. HSR Muslim (no. 291).
[23]. HSR Muslim (no. 177).
[24]. Lihat kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/457).
[25]. Tafsir Ibnu Katsir (3l310).
[26]. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir (3l310).
[27]. Lihat kitab Syarhul ‘Aqîdatil Wâshithiyyah (1/457).
[28]. Ibid.
[29]. Dinukil oleh imam Ibnu Katsir dalam kitab an-Nihâyah fiil Fitani wal Malâhim (hlm. 127).

Telaga Kemuliaan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam Pada Hari Kiamat

Oleh
Ustad Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Iman kepada hari akhir atau hari kemudian, berarti mengimani semua peristiwa yang terjadi setelah kematian yang diberitakan dalam ayat-ayat al-Qur’ân dan hadits-hadits shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Iman kepada hari akhir atau hari kemudian merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan kebenaran agama-Nya.

Bahkan karena tingginya kedudukan iman kepada hari akhir, dalam banyak ayat al-Qur’an Allâh Azza wa Jalla sering menggandengkan antara iman kepada Allâh Azza wa Jalla dan iman kepada hari akhir. Karena orang yang tidak beriman kepada hari akhir maka tidak mungkin dia beriman kepada Allâh Azza wa Jalla . Oleh sebab itu, orang yang tidak beriman kepada hari akhir dia tidak akan mengerjakan amal shaleh. Karena seseorang tidak akan mengerjakan amal shaleh kecuali dengan mengharapkan balasan kemuliaan dan juga terdorong rasa takut terhadap siksaan-Nya pada hari pembalasan kelak.

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menggambarkan sifat orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhir dalam firman-Nya :

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ

Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (waktu)” [al-Jâtsiyah/45:24][1] .

KEWAJIBAN MENGIMANI KEBERADAAN TELAGA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Di antara perkara yang wajib diimani sehubungan dengan iman kepada hari akhir adalah keberadaan al-haudh (telaga) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kemuliaan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pada hari kiamat nanti orang-orang yang beriman dan mengikuti petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupannya di dunia, mereka akan mendatangi dan meminum air telaga yang penuh kemuliaan tersebut. Semoga Allâh Azza wa Jalla memudahkan kita untuk meraih kemuliaan tersebut, amin.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, “(Termasuk landasan pokok Islam adalah kewajiban) mengimani (keberadaan) telaga milik Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat, yang nanti akan didatangi oleh umat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam … sebagaimana yang disebutkan dalam banyak hadits yang shahih (dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )”[2] .

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi berkata, "al-Haudh (telaga) yang dengannya Allâh Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , untuk diminum (airnya) oleh umat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti) adalah hak (benar adanya)”[3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menjelaskan perkara-perkara yang wajib diimani pada hari kiamat, beliau berkata[4] , “Pada hari kiamat (ada) telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan didatangi (oleh umat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) … barangsiapa meminum (air) telaga tersebut maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya”[5]
Imam an-Nawawi rahimahullah mencantumkan hadits-hadits dalam Shahîh Imam Muslim” yang menyebutkan tentang telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bab, “Penetapan (keberadaan) telaga Nabi kita (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti)…”[6] .

DALIL-DALIL YANG MENJELASKAN KEBERADAAN TELAGA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Hadits-hadits shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan ini banyak sekali, bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalan sehingga tidak mungkin diingkari kebenarannya).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Penjelasan tentang telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam – semoga Allâh memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat – (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang berkeraskepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini …”[7] .

Senada dengan ucapan di atas, imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi rahimahullah menjelaskan, “Hadits-hadits (shahih) yang menyebutkan (keberadaan) telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencapai derajat mutawatir, diriwayatkan oleh lebih dari tiga puluh orang sahabat Radhiyallahu anhum (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam )…”[8] .

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةٍ وَإِنِّي أَرْجُوْ اللهَ أَنْ أَكُوْنَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً

Sesungguhnya setiap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki telaga (pada hari kiamat nanti), dan mereka saling membanggakan siapa di antara mereka yang paling banyak orang yang mendatangi telaganya (dari umatnya). Dan sungguh aku berharap (kepada Allâh Azza wa Jalla ) bahwa akulah yang paling banyak orang yang mendatangi (telagaku)[9] .

Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits lain :

إِنَّي فَرَطٌ لَكُمْ وَأَنَا شَهِيْدٌ عَلَيْكُمْ وَإِنِّي وَاللهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الآنَ

Sesungguhnya aku akan berada di depan kalian (ketika mendatangi telaga pada hari kiamat nanti) dan aku akan menjadi saksi bagi kalian, demi Allâh, sungguh aku sedang melihat telagaku saat ini.[10]

Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya, "Sesungguhnya aku akan berada di depan kalian ketika mendatangi telaga (pada hari kiamat nanti), barangsiapa yang mendatanginya maka dia akan meminum airnya, dan barangsiapa yang meminumnya maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya.”[11]


GAMBARAN TENTANG TELAGA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM HADITS-HADITS YANG SHAHHIH
• Barangsiapa meminum air telaga tersebut maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits tersebut di atas.

• Sumber air telaga tersebut adalah sungai al-Kautsar di surga yang Allâh Azza wa Jalla peruntukkan bagi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

هَلْ تَدْرُوْنَ مَا الْكَوْثَرُ ؟ قُلْنَا اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ . قَالَ وَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيْهِ رَبِّي عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيْرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Apakah kalian mengetahui apa al-Kautsar itu? Para sahabat menjawab, "Allâh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya." Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya al-Kautsar adalah sungai yang Allâh Azza wa Jalla janjikan kepadaku, padanya terdapat banyak kebaikan, dan (airnya akan mengalir ke) telagaku yang akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat (nanti) …[12]

Dalam hadits lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Dialirkan pada telaga itu dua saluran air yang (bersumber) dari (sungai al-Kautsar) di surga … [13]

• Adapun gambaran air telaga tersebut adalah sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِ

Airnya lebih putih dari susu dan baunya lebih harum dari (minyak wangi) misk (kesturi)”[14]

Dalam hadits lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, "Dan (rasanya) lebih manis dari madu [15].

• Gayung dan timba untuk mengambil air telaga tersebut sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ

Gayung-gayungnya adalah seperti bintang-bintang di langit”[16] .

Artinya: jumlahnya sangat banyak dan berkilauan seperti bintang-bintang di langit [17].

• Bentuk telaga tersebut adalah persegi empat sama sisi[18] , sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih.[19]

SIAPAKAH ORANG-ORANG YANG TERPILIH MENDATANGI TELAGA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?
Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selalu mengikuti petunjuk yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan, adapun orang-orang yang berpaling dari petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sewaktu mereka masih hidup di dunia, maka mereka akan diusir dari telaga tersebut.[20]

Dalam sebuah hadits shahih Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ada orang-orang yang terhalangi dan diusir dari telaga yang penuh kemuliaan ini[21]. Karena mereka sewaktu di dunia berpaling dari petunjuk dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pemahaman dan perbuatan bid'ah. Sehingga di akhirat mereka dihalangi dari kemuliaan meminum air telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.[22]

Imam Ibnu Abdil Barr [23] rahimahullah berkata, "Semua orang yang melakukan perbuatan bid'ah yang tidak diridhai Allâh Azza wa Jalla dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti), dan yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid'ah) yang menyelisihi (pemahaman) jamâ'ah kaum Muslimin, seperti orang-orang Khawarij, Syi'ah rafidhah dan para pengikut hawa nafsu. Demikian pula orang-orang yang berbuat zhalim, yang melampaui batas dalam kezhaliman dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan. Mereka semua ini dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) [24].

Terlebih lagi orang-orang yang mengingkari keberadaan telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, seperti kelompok Mu’tazilah [25] , mereka termasuk orang yang paling terancam diusir dari telaga ini.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Penjelasan tentang telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam – semoga Allâh memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat – (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang berkeraskepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini. Mereka inilah yang paling terancam untuk dihalangi (diusir) dari telaga tersebut (pada hari kiamat) [26] , sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf, “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut...”[27] .

Imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi rahimahullah berkata, “Semoga Allâh membinasakan orang-orang yang mengingkari keberadaan telaga ini, dan alangkah pantasnya mereka ini untuk dihalangi dari mendatangi telaga tersebut pada hari (ketika manusia mengalami) dahaga yang sangat berat (hari kiamat)”[28]

PENUTUP
Demikianlah penjelasan ringkas tentang telaga kemuliaan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kewajiban mengimaninya merupakan perkara penting yang berhubungan dengan iman kepada hari akhir dan merupakan salah satu prinsip dasar akidah Ahlus sunnah wal jamaah, yang tercantum dalam kitab-kitab akidah para imam Ahlus sunnah.

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk dapat meraih semua kebaikan dan kemuliaan yang dijanjikan-Nya di dunia dan di akhirat kelak, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah (2/528).
[2]. Kitab Ushûlus sunnah (hlm. 3-4).
[3]. Kitab Syarhul ‘Aqîdatith Thahâwiyyah (hlm. 227).
[4]. Kitab Syarhul ‘Aqîdatith Thahâwiyyah (2/572).
[5]. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang akan kami sebutkan insya Allah.
[6]. Kitab Shahih imam Muslim (4/1791).
[7]. Kitab an-Nihâyah fiil Fitani wal Malâhim (hlm. 127).
[8]. Kitab Syarhul ‘Aqîdatith Thahâwiyyah (hlm. 227).
[9]. HR at-Tirmidzi (no. 2443) dan ath-Thabarani dalam an-Mu’jamul Kabîr (no. 6881), juga dari jalur lain (no. 7053) dari sahabat Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu . Hadits ini sanadnya lemah, akan tetapi diriwayatkan dari beberapa jalur yang saling menguatkan, sehingga hadits ini mencapai derajat hasan atau bahkan shahih, sebagaimana penjelasan syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahâditsish Shahîhah (no. 1589).
[10].HSR al-Bukhari (no. 6218) dan Muslim (no. 2296) dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu anhu .
[11]. HSR al-Bukhari (no. 6643) dan Muslim (no. 2290) dari sahabat Sahl bin Sa’ad as-Saa’idi Radhiyallahu anhu.
[12]. HSR Muslim (no. 400) dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.
[13]. HSR Muslim (no. 2300) dari sahabat Abu Dzar al-Gifâri Radhiyallahu anhu.
[14]. HSR al-Bukhari (no. 6208) dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu.
[15]. HSR Muslim (no. 2301) dari sahabat Tsauban Radhiyallahu anhu.
[16]. HSR al-Bukhari (no. 6208) dan Muslim (no. 2292) dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu.
[17]. Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah (2/573).
[18]. Lihat keterangan syaikh Shaleh Alu syaikh dalam Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah (1/463).
[19]. HSR Muslim (no. 2292) dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu.
[20]. Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah (2/573).
[21]. Riwayat imam al-Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.
[22]. Lihat keterangan syaikh Shaleh Alu syaikh dalam Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah (1/468).
[23]. Beliau adalah Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Barr An Namari Al Andalusi (wafat 463 H), syaikhul Islam dan imam besar ahlus Sunnah dari wilayah Magrib, penulis banyak kitab hadits dan fikih yang sangat bermanfaat. Biografi beliau dalam kitab Tadzkiratul huffâzh (3/1128).
[24]. Kitab Syarh az Zarqâni 'ala Muwaththa-il Imâmi Mâlik (1/65).
[25]. Lihat keterangan syaikh Shaleh Alu syaikh dalam Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah (1/468).
[26]. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih di atas
[27]. Kitab an-Nihâyah fiil Fitani wal Malâhim (hal. 127).
[28]. Kitab Syarhul ‘Aqîdatith Thahâwiyyah (hlm. 229).

Aqidah Makna Dan Urgensinya

Oleh
Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammâdah al-Jibrin

Sesungguhnya ilmu tentang aqidah merupakan ilmu yang sangat mulia, karena ilmu aqidah membahas tentang dzat Allah Azza wa Jalla , sifat-sifat-Nya, hak-Nya untuk diibadahi, dan yang berkaitan dengannya. Al-Bazdawi rahimahullah berkata, "Sesungguhnya kemuliaan dan keagungan suatu ilmu tergantung pada apa yang diilmui, dan tidak ada yang lebih besar daripada dzat Allâh Azza wa Jalla dan